You Are Here: Home » Alumni » Entrepreneurship melalui Startup? Mengapa Tidak!

Entrepreneurship melalui Startup? Mengapa Tidak!

Beberapa tahun terakhir, semangat entrepreneurship sudah sangat menggema di kampus-kampus ternama di Indonesia termasuk ITB. Saya ingat ketika saya masih duduk di tingkat 3 perkuliahan S1 (sekitar tahun 2006), beberapa senior IF angkatan 2003 mendirikan Sangkuriang Studio, startup yang kemudian bergerak di bidang Game, Multimedia Applications, Business Support System, Rich Internet Applications. Ketika itu saya berpikir, berani sekali para senior ini langsung memulai usaha, sesuatu yang hanya akan saya jajali apabila memiliki pengalaman karir dan modal yang cukup.

Kantor Suitmedia

Kantor Suitmedia

Yang ada di dalam rencana hidup jangka menengah saya saat itu yaitu setelah lulus S1, bekerja di perusahaan top untuk menggali pengalaman sebanyak-banyaknya, dan berbekal itu saya ingin melanjutkan kuliah S2 dan kemungkinan juga S3 di universitas top dunia, dan dengan itu saya dapat menduduki jajaran eksekutif di perusahaan besar, barulah saya memiliki modal (pengalaman maupun dana) yang cukup untuk memulai suatu usaha. Sebuah rencana yang saya pikir cukup banyak dilakukan dan dijalankan oleh para alumni.

Akhirnya, tidak lama setelah lulus dari ITB, saya bekerja di Boston Consulting Group (BCG), salah satu perusahaan konsultan bisnis kelas dunia, yang tahun ini dinobatkan oleh Fortune sebagai tempat kerja terbaik di dunia di bawah Google (lihat di http://money.cnn.com/magazines/fortune/best-companies/2012/full_list/). Sampai disini, saya masih mengikuti rencana hidup saya tersebut, hingga saya mendengar pernyataan dari rekan yang bekerja di perusahaan sejenis sebagai berikut:

I joined world class consultant in order to enter MBA in world top university. I thought it was a good decision, yet apparently questionable. I faced quite difficult experience in applying since there are hundreds of consultants just like me, not mentioning those from competitors within the same and across industries; hence I am less special at all compared to them. I was then thinking that the story maybe different if I chose to start my own startup, engage in a unique business model, and cooperate within my team to bring added value to our employees, partners, and furthermore communities we are collaborating with. I think that would be unique and able to provide high advantage when applying for MBA.

Kru Suitmedia

Kru Suitmedia

Untuk saya sendiri, akhirnya setelah satu setengah tahun berkarir di BCG, saya akhirnya menjadi partner penuh rekan saya Achmad Zaky dalam mengembangkan Suitmedia, startup yang bergerak di dalam Website Development, Mobile Application (Android, Blackberry, dan iOS) Development, and Social Media Network, dan Bukalapak, startup yang bergerak di bidang eCommerce.

Disini saya melihat bahwa menjadi entrepreneur, khususnya mengembangkan startup, ternyata merupakan pilihan yang memiliki nilai lebih meskipun kita memiliki rencana-rencana lain untuk hidup kita ke depannya. Saya sampaikan tiga contoh disini:

  1. Untuk keperluan studi lebih lanjut
    Hal ini sudah terlihat dari penjelasan diatas, yaitu bahwa terlibat di dalam startup yang memiliki model bisnis yang unik dan memberikan manfaat bagi komunitas/masyarakat ternyata menjadikan profil diri kita unik dibandingkan dengan pelamar yang lain. Keunikan inilah yang dicari oleh para penyeleksi aplikan yang melamar ke universitas karena mereka tidak ingin memiliki profil mahasiswa yang seragam. Dengan demikian, peluang kita untuk lolos akan lebih besar.
  2. Untuk bergabung di korporasi / perusahaan besar
    Terlibat di dalam startup memungkinkan kita untuk terlatih berpikir kreatif dan out-of-the-box karena iklim dunia startup yang bersifat all or nothing (kalau startup kita tidak memiliki nilai lebih dibanding yang lain, kita akan tertinggal). Korporasi biasanya memandang lebih karyawan yang memiliki pola pikir ini. Besar kemungkinan, karyawan tersebut akan lebih mudah naik tingkat karena semakin ke atas, akan semakin banyak problem perusahaan yang tidak bersifat tekstual sehingga memerlukan pendekatan kreatif. Sebagai contoh lagi, banyak rekan saya di BCG yang pernah terlibat di startup sebelum mereka bergabung (bahkan beberapa diantaranya masih menjalankannya).
  3. Untuk menjadi pengajar
    Rasanya poin terakhir ini cukup jelas, yaitu bahwa pengalaman yang riil dalam mengembangkan startup akan memudahkan pengajar dalam memberikan materi kepada mahasiswa dibandingkan mengandalkan teori atau text book saja, terutama untuk mata kuliah terkait (seperti Software Project Management atau IT Business/Management).

Dengan demikian, mengembangkan startup dapat menjadi pilihan karir yang baik, entah itu bagi rekan-rekan yang memang ingin berwirausaha, maupun bagi rekan-rekan yang ingin merencanakan hal-hal diatas.

Terakhir, saya ingin menanyakan, khususnya bagi rekan-rekan yang sudah mengembangkan startup, yaitu mengapa rekan-rekan memilih untuk menjadi entrepreneur? Beberapa orang melakukannya karena waktu kerja yang fleksibel, budaya kerja yang fleksibel (tidak harus pakai kemeja ke kantor, dsb), kesempatan untuk meningkatkan pendapatan, kesempatan untuk menjadi atasan, atau bahkan alasan gengsi (“saya punya perusahaan!”). Menurut saya sendiri, orang yang memilih untuk menjadi entrepreneur hendaknya melakukannya karena itu adalah salah satu cara terbaik dalam memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pihak lain, entah itu karyawan, klien, vendor, ataupun pihak lain yang terlibat di dalam usaha kita. Apakah rekan-rekan sepakat? Atau ada alasan lain?

Muhamad Fajrin Rasyid (IF2004) Artikel ini disumbangkan oleh Muhamad Fajrin Rasyid IF 2004 yang sekarang menjadi Director di perusahaan Suitmedia. Rekan-rekan yang ingin ikut berkontribusi menyumbangkan artikel dapat menghubungi tim Informatika.org melalui halaman Kontak.

About The Author

Number of Entries : 8

Comments (1)

  • Muhammad Ghazali

    Hello, bahasan yang menarik tentang startup, terlebih lagi di Indonesia sudah cukup banyak startup bermunculan dengan warna-warni yang berbeda.
    Setelah sekian belas bulan saya berada di dunia startup bersama teman-teman, rasanya berat dan menyenangkan. Bagaimana saya bisa bilang kalau dunia startup itu berat dan menyenangkan?
    Menurut saya untuk memulai startup company itu membutuhkan keseriusan dan kesenangan yang saling berdampingan dalam kesehariannya. Kenapa menurut saya startup itu berat? Karena tantangan yang dihadapi itu besar dan mungkin banyak orang yang beranggapan kalau membuat startup company itu mudah, padahal tidak. Saya merasa senang bisa bergabung dengan teman-teman saya untuk memulai startup company karena saya bisa belajar banyak hal. Terlalu banyak hal yang menarik untuk dipelajari.
    Jadi, startup itu sangat berat kalau dijalankan dengan tidak serius sekaligus fun.

    Kenapa saya memilih untuk menjadi entrepreneur? Karena saya ingin membuat lingkungan di sekitar menjadi lebih baik lagi dengan sesuatu yang dihasilkan melalui startup yang sedang dijalankan bersama teman-teman saya.

    Dari sekian banyak referensi, nasihat dan apa yang saya lihat dari dunia startup, ada kata-kata yang akan selalu saya ingat, lebih baik gagal cepat dan bangkit kembali dengan cepat.

    Notes:
    Nampak tautan situs web Sangkuriang di tulisan ini tidak bekerja dengan baik atau salah ketik mungkin.
    http://www.sangkurang.co.id/

    Balas

Leave a Comment

© 2011 Copyright by Informatika.org, Powered By Wordpress, Goodnews Theme By Momizat Team

Scroll to top