Southwest Germany – “Silicon Valley”nya Jerman
Saya ingin berbagi sedikit tentang kawasan South-West Germany sebagai”Silicon Valley“nya Jerman yang juga disebut-sebut sebagai “Silicon Valley” nya Eropa.
Saya kebetulan bekerja di sebuah institusi di Karlsruhe, yang terlibat dalam cluster ekonomi bidang IT ini sebagai institusi transfer “science to business” dan sebaliknya.
Untuk membangun suatu cluster, dibutuhkan sinergi pihak-pihak yang terlibat dalam value chain IT, yaitu:
- Akademisi dan peneliti (universitas, lembaga riset)
- Perusahaan pengembang/produsen IT/SW, termasuk kamar dagang
- Investor
- Policy maker/pemerintah
Sebenarnya secara alami pembentukan cluster ini sudah dimulai sejak 30-40 tahun yang lalu. Pertama dengan munculnya displin “Informatics” sebagai perkembangan dari Mathematics + Engineering. Universitas-universitas di Jerman barat daya (TH Karlsruhe (skrg bernama KIT), TU Darmstadt, TU Kaiserslautern, Uni Saarbrücken) adalah yang pertama menawarkan disiplin ilmu ini. Kemudian para alumninya mendirikan atau bekerja di perusahaan-perusahaan IT di sekitarnya. Contoh perusahaan IT terkenal di kawasan ini adalah SAP AG yg didirikan alumni Uni Saarbrücken dan TH karlsruhe, serta Sofware AG yg didirikan alumni TU Darmstadt.
Dengan berjalannya waktu, muncul perusahaan-perusahaan baru, dan perusahaan-perusahaan tersebut saling kerjasama dalam berbagai proyek, membuat produk bersama, atau bahkan merger, hingga terbentuklah suatu jaringan yg kuat. Jaringan ini ditambah lagi dengan adanya lembaga-lembagat riset di kawasan ini sebagai “pabrik” inovasi IT seperti German Research Center for Artificial Intelligence (DFKI), Research Center for Information Technology (FZI), Fraunhofer Gesselschaft, Max Planck Institute, dan lain-lain.
Untuk mengembangkan cluster ini sinergi pihak yang terkait sangat kuat. Contoh konkritnya antara lain:
- Pemberian semacam beasiswa dari pemerintah dan kamar dagang untuk inovator-inovator yang ingin mendirikan start-up company. Jadi mereka masih bisa hidup sambil mengembangkan start-up companynya.
- Program riset bersama antara institusi riset dengan perusahaan-perusahaan terutama yg berskala SME (Small and Medium Enterprise) . Untuk melakukan riset ini sekitar 40-50% effortnya dibiayai oleh pemerintah untuk mengurangi risiko yg harus ditanggung SME.
- Penyediaan fasilitas technology park, dimana start-up company dapat berkantor dengan gratis atau biaya murah.
- Pelibatan industri dalam penyusunan road-map riset dan kurikulum. Jadi ada proses feedback sebagai berikut:
Kebutuhan dan tantangan di lapangan → proses R&D (melibatkan teori) utk solusinya → kurikulum/isi mata kuliah. Isi mata kuliah dan kurikulum terutama di bidang IT, hampir setiap tahun diganti atau diperbarui sesuai dengan feedback dari R&D. - Bantuan konsultasi hukum dan pajak, yang biasanya dikoordinasikan oleh kamar dagang.
- Pembentukan forum dan organisasi untuk saling berbagi kebutuhan dan tantangan masing-masing, dan juga kadang-kadang menyusun standarisasi bersama untuk mempermudah proses bisnis mereka
O ya, di Jerman selain cluster IT banyak juga cluster lain seperti cluster kedirgantaraan di Hamburg dan sekitarnya, cluster biomedik di Nuremberg dan sekitarnya, cluster semikonduktor di Dresden dan sekitarnya, cluster untuk Logistics di Dortmund dan sekitarnya, dan masih banyak lagi. Yang menjadi karakteristik cluster di Jerman adalah basis teori dan teknologi yang kuat. Pendiri-pendiri perusahaan dan praktisinya kebanyakan sudah lulus dari universitas atau sekolah tinggi. Tapi memang sistem pendidikannya didesain utk mencetak orang benar-benar mandiri, diantaranya membebaskan bagaimana cara belajar (tidak harus hadir kuliah, jarang ada PR dan tugas, tidak ada UTS, kesempatan hanya di ujian akhir), berprinsip “the right man on the right place” (yakni dengan aturan DO yang ketat: jika orang sudah terlanjur ter-DO, mau pindah di universitas lain dengan jurusan yang sama tidak akan diterima karena sudah dianggap org tersebut tidak tepat di bidang yang bersangkutan).
Artikel ini disumbangkan oleh Hendro Wicaksono IF 1998. Tulisan ini diangkat dari pembicaraan di milis alumni mengenai alumni-alumni Informatika yang sekarang bekerja di industri-industri IT di luar negeri. Rekan-rekan yang ingin ikut berkontribusi menyumbangkan artikel dapat menghubungi tim Informatika.org melalui halaman Kontak.

anon
wah kalo gitu UAS nya kayak apa itu?
Hendro
UAS ada yang lisan ada yang tulis. Kalau lisan, ujiannya kira2 1/2 jam per mata kuliah, menjawab pertanyaan langsung dari profesor dengan disaksikan satu org saksi/notulen. Ada UAS yang sifatnya kompehensif, 3-4 matkul diujikan sekaligus dalam 1 jam. Jadi kita harus bener2 mengerti materinya. Kalau sekedar menghafal bakal ketahuan. Ujiannya bisa kapan saja, asal buat janji dengan profesor.
Ujian tulis biasanya soalnya dibuat sedemikian rupa sehingga kalau kita mau selesai, harus langsung tulis, tanpa ada waktu berpikir. Jadi tidak ada waktu untuk berpikir lama, atau memeriksa kembali jawabannya. Waktu ujian tulis adalah akhir semester, ketika periode belajar-mengajar berakhir.
Persiapannya harus berminggu-munggu atau berbulan-bulan sebelumnya, tidak bisa SKS. Jadi kalau mau sukses untuk kuliah di Jerman, cara belajarnya harus agak berbeda dengan di Indonesia. Rata2 mahasiswa sini belajar teratur seperti orang ngantor hampir sepanjang semester.
Agung Prasetyo
Aturan DO-nya patut ditiru
Salam kenal, mas