Augmented Reality di Belanda, dari Laboratorium Riset sampai Proyek Komersial
Ibrahim, would you like to join this small augmented reality project that we have?
Saya yang sedang berdiskusi santai dengan kolega-kolega di lab terkejut mendengar kata-kata tersebut terucap dari Yolande, kepala laboratorium riset tempat saya sedang bergelut dengan tesis S2 saya. Ada proyek apa gerangan, pikir saya.
Saat itu, saya baru dua minggu tiba di Belanda, tepatnya di kota Den Haag, kota ketiga terbesar di negara tersebut, dan sekaligus merupakan pusat pemerintahan negara Belanda. Saya tiba di Belanda dalam rangka mengunjungi ARLab, sebuah laboratorium riset yang bergerak di bidang augmented reality dan teknologi visualisasi. Sampai di sini, mungkin terbersit pertanyaan di benak pembaca, apakah sebenarnya augmented reality itu, dan apa yang membuat saya berkunjung ke ARLab?
Augmented Reality, dan Perkembangannya di Belanda
Contoh Aplikasi Augmented Reality. Gambar disumber dari makalah mengenai Wikitude Drive.
Augmented reality, atau AR, berusaha untuk memperkaya tampilan yang dilihat oleh pengguna dengan cara menambahkan (augments) simulasi objek-objek yang sebenarnya tidak ada di dunia nyata (reality). Contoh sederhana bisa dilihat di aplikasi penunjuk jalan di sebelah kanan, dimana AR menambahkan jalur virtual di atas tampilan dunia nyata. Tujuan penambahan jalur virtual ini adalah agar pengguna bisa lebih mudah melihat jalur mana yang harus ia tempuh. Selain contoh penerapan AR di bidang navigasi di atas, ada banyak bidang lain yang memiliki potensi besar bagi penerapan AR, mulai dari bidang kesehatan sampai dengan hiburan.
Di Belanda sendiri, mulai banyak bermunculan penerapan AR dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, sebuah restoran di kota Rotterdam, Belanda, menggunakan AR dalam bentuk meja makan yang bisa memunculkan simulasi makanan yang hendak dipesan oleh pengunjung. Penggunaan AR ini menghadirkan pengalaman bersantap yang unik dan menarik bagi pengunjung restoran.
Selain penerapan AR yang mulai bermunculan di kehidupan sehari-hari, Belanda juga memiliki ARLab. Seperti apakah sebenarnya ARLab ini?
ARLab – Laboratorium Riset Augmented Reality
AR headset, salah satu produk eksperimental ARLab. Gambar disumber dari situs ARLab.nl.
ARLab adalah laboratorium riset yang memposisikan dirinya sebagai pusat riset penerapan augmented reality. ARLab memiliki tujuan menghasilkan produk-produk AR yang bisa diadopsi oleh masyarakat umum. Laboratorium riset ini merupakan kolaborasi antara Technical University of Delft (lazim disingkat TU Delft) dan Royal Academy of Arts Belanda.
Yang saya sangat kagumi dari ARLab adalah lab ini diisi oleh berbagai pakar dan praktisi AR dengan latar belakang yang sangat beragam, mulai dari periset S3 yang mengambil AR sebagai topik risetnya, sampai dengan seniman komunikasi visual yang menggunakan AR sebagai medium tempat menuangkan ekspresi seninya. Hal ini menjadikan kolaborasi dalam ARLab sangat unik, karena menggabungkan pengalaman dan kemampuan teknis para periset dengan jiwa seni dan desain para seniman untuk menghasilkan produk AR yang bukan hanya sekedar bisa digunakan, tapi juga disukai masyarakat. Saya rasa kolaborasi sehat seperti ini perlu digalakkan juga di ITB.
Suasana salah satu sudut ARLab, dengan augmented reality marker di latar belakang. Gambar disumber dari situs ARLab.nl.
Saya berkunjung ke ARLab dalam rangka pengerjaan tesis S2 saya. Topik yang saya ambil dalam tesis saya adalah mengenai mobile augmented reality, dimana saya mengembangkan metode baru untuk mengestimasi pencahayaan lingkungan di sekeliling mobile device agar bisa menghasilkan simulasi AR yang lebih realistik. Tentunya banyak penelitian yang harus dilakukan dalam pengerjaan tesis saya. Karena itu, saya bertujuan agar dalam kunjungan saya ke ARLab ini, saya bisa sebanyak mungkin menimba ilmu mengenai AR dari para pakar dan praktisi yang terlibat di ARLab. Target saya, setelah tiga bulan saya di Belanda, saya harus sudah memiliki bahan yang cukup untuk kembali ke Norwegia, negara tempat saya sedang menjalani program studi S2, dan melanjutkan penulisan tesis saya. Saya sendiri sewaktu itu sedang menjalani semester keempat dari program S2 saya, Erasmus Mundus Color in Informatics and Media Technology, dimana saya cukup beruntung bisa bergabung dengan program tersebut dengan bantuan beasiswa penuh dari Uni Eropa.
Kembali ke kutipan mengenai ajakan dari kepala ARLab di awal tulisan ini. Ternyata, setelah diskusi lebih lanjut dengan beliau mengenai proyek yang ARLab sedang hadapi, saya baru mengetahui bahwa ternyata maskapai resmi penerbangan kerajaan Belanda, KLM, baru saja meminta bantuan ARLab untuk mengembangkan mobile game yang menggunakan teknologi augmented reality!
Proyek Mobile Augmented Reality Game dari KLM
Rasa penasaran saya timbul, seperti apa AR gameyang KLM inginkan? Dari diskusi santai dengan kepala ARLab, terungkap bahwa KLM menginginkan sebuah game yang bisa dimainkan oleh calon penumpang yang sedang menunggu pesawatnya di waiting room bandara Schiphol, Amsterdam. Mereka berharap, lewat memainkan mobile AR game dengan branding KLM, para calon penumpang selain bisa menghilangkan rasa jenuh ketika menunggu pesawat, juga bisa mendapat value-added experience bersama KLM. ARLab merasa kewalahan menerima tawaran proyek ini, karena anggota lab yang saat itu bisa bergabung semuanya memiliki latar belakang desain. Sang kepala ARLab berharap dengan latar belakang saya di bidang software development, ditambah dengan pengalaman saya di bidang mobile augmented reality, saya bisa membantu merealisasikan permintaan KLM tersebut menjadi sebuah produk game yang nyata dan menyenangkan.
Kenapa tidak?
Saya akhirnya bergabung dengan tim proyek tersebut. Selain saya, ada dua orang lain dengan latar belakang desain yang sudah biasa terlibat dalam proyek augmented reality. Merasa masih butuh bantuan, terutama dalam bagian merancang game yang menyenangkan bagi masyarakat umum, saya mengajak salah satu professor saya di Game Technology Lab, Gjovik University College, Norwegia, untuk ikut bergabung dalam tim kami. Beliau kebetulan mengajar kuliah Advanced Game Technology di universitas tempat saya menjalani program S2. Setelah melalui proses brainstorming yang cukup panjang, kami memutuskan untuk membuat location-based augmented reality game menggunakan Layar Augmented Reality Browser, sebuah library untuk Android dan iPhone yang memudahkan pengembangan aplikasi AR.
Konsep mobile AR Game untuk KLM. Gambar disumber dari koleksi pribadi.
Saya kemudian mengimplementasikan konsep game yang telah kami rancang bersama-sama menjadi sebuah prototipe awal yang bisa kami tunjukkan kepada KLM. Implementasi konsep awal ini sendiri relatif mudah, karena framework AR yang Layar berikan cukup lengkap. Dari segi teknis, saya cukup membuat sebuah web service yang sesuai dengan spesifikasi dari Layar dan mengembalikan informasi mengenai objek-objek yang hendak ditampilkan sebagai objek augmented reality di mobile device. Gambar konsep dari prototipe ini bisa dilihat di sebelah kanan. Setelah prototipe awal ini selesai, kami bertemu dengan pihak KLM untuk meminta feedback dari mereka. Untungnya, pihak KLM suka dengan konsep yang kami tawarkan, dan lampu hijau untuk implementasi penuh game tersebut pun diberikan.
Sampai di sini, sayang sekali deadline tesis S2 saya sudah cukup dekat, dan saya dihadapkan ke pilihan antara melanjutkan implementasi atau menunda kelulusan saya selama setahun. Hmm, tampaknya bukan pilihan yang sulit.
Kami akhirnya meminta bantuan seorang developer indie dari Norwegia untuk melanjutkan implementasi mobile game tersebut, sementara saya memfokuskan diri ke penulisan dan sidang tesis saya. Pada bulan September 2011, akhirnya pengembangan mobile AR game untuk KLM selesai sudah, dan pada bulan Oktober 2011 game tersebut di rilis untuk publik oleh KLM dengan judul “Are you ready for boarding?”. Liputan mengenai game tersebut bisa dilihat di video youtube di bawah. (Sayangnya hanya dalam bahasa Belanda.)
Tunggu dulu, bagaimana dengan komersialisasi proyek mobile AR game tersebut? Well, cukup dikatakan bahwa hasil dari proyek tersebut sangat membantu modal pernikahan dan bulan madu saya.
Artikel ini disumbangkan oleh Ibrahim Arief IF 2003 yang melanjutkan kuliah pada program Erasmus Mundus Color in Informatics and Media Technology (CIMET) dan sekarang bekerja sebagai software engineer di Belanda . Rekan-rekan yang ingin ikut berkontribusi menyumbangkan artikel dapat menghubungi tim Informatika.org melalui halaman Kontak.
Brahmasta
Keren Bam. Semoga cepet beres tesisnya!
Ibrahim Arief
Thanks Bram!
Alhamdulillah sekarang udah beres, artikelnya cerita setahun yang lalu.
Erry
AR di Indonesia lagi coba diterapin di aplikasi mobile juga tuh, ada iButterfly & MyDragonfly. Tapi, keduanya franchise dari developer asing.
Rynso
Ibam!!! Wah, akhirnya stay di sana mas Bro? Sama istri?
Jadi kangen pengen balik lagi =D