Hidup sebagai Seorang Jurnalis Teknologi Informasi
Jalan-jalan dan makan-makan. Kedua hal tersebut adalah hobi saya. Siapa sangka, sekarang keduanya bisa secara rutin dilaksanakan berkat profesi yang saya geluti.
Bukan, profesi saya bukan sebagai pakar kuliner. Bukan pula sebagai food traveler. Saya, saat ini, sedang menjalani pekerjaan sebagai seorang jurnalis di bidang TI. Tepatnya untuk majalah InfoKomputer yang tergabung di dalam Kompas Gramedia Group of Magazine.
Profesi ini membawa saya kerap memperoleh kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat bergengsi di Jakarta dalam rangka tugas liputan. Sebagai bagian dari acara, biasanya, sih, ada sesi yang paling saya sukai: makan-makan (hihihi :p). Tidak mengherankan kalau dalam durasi 2 tahun 4 bulan bekerja, bobot tubuh saya meningkat cukup pesat.
Pada umumnya, empunya acara (perusahaan TI) mengadakan event berupa konferensi pers, pameran, seminar, dan sebagainya di hotel atau pusat perbelanjaan. Tak jarang pula acara digelar di kafe/restoran atau di kantor perusahaan yang bersangkutan. Pokoknya, tempat-tempat yang dahulu, ketika masih tinggal di Bandung, tidak pernah terpikir bisa saya datangi. Hehe, norak ya? :p
Dalam berbagai liputan pula, saya mendapat kesempatan bertemu dan berbincang dengan tokoh-tokoh penting di bidang TI. Mulai dari pejabat pemerintah, pengamat TI, pebisnis startup lokal, unit manager, CIO/CTO, CEO, country manager, regional manager, hingga ke level global executives perusahaan-perusahaan TI.
Yang juga mengasyikkan, jalan-jalan ini tidak hanya terbatas di dalam kota Jakarta. Undangan peliputan dari berbagai pihak membawa saya pernah menjejakkan kaki ke Sukabumi, Baturraden, Yogyakarta, dan Bali. Liputan ke luar negeri pun pernah saya tunaikan, mulai dari Singapura, Cina, hingga yang terjauh (dan sampai kini yang paling berkesan) ke Norwegia. Alhamdulillah
Beberapa tempat yang pernah saya kunjungi dalam rangka liputan (Norwegia, Cina, Singapura, dan Bali)
Cari, Ramu, Tulis
Oke, tapi jalan-jalan dan makan-makan hanyalah bumbu penyedap dari tugas utama saya selaku jurnalis. Inti pekerjaan saya tetaplah mencari berita untuk diramu dan disampaikan dalam bentuk tulisan kepada para pembacanya. Tulisan itu harus faktual, menarik, dan (harapannya) bermanfaat bagi mereka.
Berita tidak sekadar diperoleh dari liputan. Saya dituntut mampu mewawancarai narasumber, mencari quote yang penting, dan ditambah informasi dari sumber-sumber lain, utamanya dari internet.
Tulisan lain yang saya kerjakan adalah uji produk. Selama ini, saya beberapa kali kebagian menguji PC all-in-one dan laptop. Prosesnya, barang uji yang dipinjamkan oleh vendor akan diuji benchmark-nya dulu oleh bagian lab. Setelah keluar angka-angkanya, barulah kemudian saya yang bertugas menganalisis dan mengemasnya dalam bentuk tulisan.
Jenis produk yang masuk ke lab sangat beragam dan selalu model-model terbaru yang bahkan mungkin belum ada di pasaran. Laptop, smartphone, tablet, prosesor, kartu grafis, printer, multimedia player, peranti jaringan, dan juga produk-produk enterprise seperti NAS dan server. Masing-masing sudah dipegang oleh redaksi-redaksi yang berpengalaman di bidangnya.
Karena saya bekerja di majalah yang terbit bulanan, saya pun mesti pandai-pandai menyajikan berita dan artikel yang sifatnya feature, bukan hard news. Soalnya, berita hard news akan terasa basi karena sudah banyak dibahas oleh media harian dan media online. Belum lagi bermunculannya blog-blog bertema teknologi.
Terjun ke Dunia Digital
Media online di masa kini adalah ancaman besar bagi media cetak. Terlebih lagi untuk genre media TI, saat pembaca bisa lebih cepat mencari informasi di dunia maya. Bahkan, media bisnis dan pemasaran juga sudah mulai merangsek ke ranah TI, khususnya di sektor enterprise, karena sifat TI dan bisnis yang dewasa ini kian sulit terpisahkan.
Oleh karena itu, majalah InfoKomputer mulai bergerak ke arah digital melalui situs InfoKomputer Online dan versi majalah digital di iPad. Aktivitas di media sosial pun tidak dilupakan, seperti di Twitter, Facebook, dan Koprol.
Di lingkup Kompas Gramedia, Group of Magazine adalah salah satu unit bisnis yang paling awal menggalakkan inisiatif digital, di samping Kompas.com. Kami telah mempunyai divisi tersendiri, Digital Media, untuk mengurusi strategi digital media-media yang tergabung di Group of Magazine.
Foto bersama rekan-rekan di InfoKomputer, meliputi bagian redaksi, promosi, & iklan. Setelan nonformal seperti ini adalah pakaian sehari-hari kami.
Social Media Year
Tahun lalu, divisi Digital Media inilah yang menyelenggarakan kompetisi Social Media Year (SOMEY). Bisa jadi, Kompas Gramedia Group of Magazine-lah perusahaan pertama di Indonesia yang punya ajang seperti ini.
Di kontes ini, aktivitas akun Twitter setiap media dan setiap karyawan Group of Magazine dipantau dengan metode social analytics khusus, antara lain jumlah followers dan pertumbuhannya, jumlah mention, dan jumlah retweet. Akun terbaik dan yang paling aktif diganjar hadiah iPad.
Contoh tampilan aplikasi Gramedia Majalah di iPad yang menawarkan berbagai majalah digital terbitan Kompas Gramedia.
Akan tetapi, sejujurnya saya masih melihat penerapan digitalisasi media di perusahaan ini masih berjalan setengah hati. Masalahnya, tidak semua karyawan siap dan mau ikut dalam perubahan strategi ini. Yang saya lihat, sih, khususnya karyawan-karyawan senior yang “budaya media cetak”-nya masih kental. Mereka sulit beradaptasi dengan “budaya online”.
Contoh konkretnya di media saya, InfoKomputer. Dari sekitar delapan orang redaksi, praktis cuma segelintir yang rajin mengelola InfoKomputer Online dan akun-akun di media sosial. Saya yang paling aktif, lalu dibantu oleh sekitar dua atau tiga orang lainnya–kebanyakan anak muda.
Permasalahan serupa yang saya lihat terjadi di majalah CHIP (sesama saudara penghuni Group of Magazine). Padahal, mereka sudah punya staf sendiri untuk mengurusi versi online-nya.
Meski demikian, kami cukup berbangga karena dalam penilaian SOMEY, @InfoKomputer masuk dalam 10 besar akun media terbaik. Lumayan lah, untuk ukuran media yang jabatan admin akun Twitter-nya belum ditangani khusus dan masih dirangkap oleh redaksinya. Sebagai tambahan informasi, akun pribadi saya @erryfp juga masuk dalam 10 besar akun individu terbaik
#narsis
Awal Mula
Saya tidak tahu, adakah alumnus Teknik Informatika ITB lainnya yang memilih profesi di bidang jurnalistik? Kalau tidak ada, saya jadi yang pertama, dong? #narsislagi
Sejujurnya, saat masih berstatus sebagai pemegang NIM 13503065, tidak pernah tebersit pikiran untuk menjadi jurnalis TI. Saya malah nggak ngeh ada majalah InfoKomputer. Majalah komputer yang saya kenal waktu itu cuma CHIP.
Yang timbul malah ide menjadi jurnalis sepakbola (sesuai hobi saya) akibat terinspirasi dari serunya tulisan para jurnalis tabloid BOLA. Dalam bayangan saya, betapa senangnya jurnalis itu bisa sering pergi ke luar negeri, menonton klub sepakbola kesayangan, dan dibayari kantor pula. Ternyata, jadi jurnalis TI pun kesempatannya sama, cuma minus nonton bola.
Pada dasarnya, saya memang suka menulis (asal bukan menulis source code program) dan punya ketertarikan terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar (bukan bahasa C, C++, Java, dan bahasa pemrograman lainnya).
Itulah alasan saya memilih masuk ke Divisi Media saat aktif di HMIF di bawah komando Septia Sukariningrum (salah satu tokoh wanita pilihan di dunia TI versi InfoKomputer April 2012). Pengalaman bertanggungjawab mengisi konten di buletin XpressIF dan website HMIF (arsip tulisan saya ada di mana ya?) menjadi bekal berarti bagi saya dalam menjalani profesi jurnalis.
Hingga akhirnya saya lulus pada bulan Maret 2009 dan diwisuda bulan April, dilanjutkan mencari pekerjaan, dan saya mencoba melamar ke Kompas Gramedia ketika menemukan lowongan jurnalis TI, bulan Mei. Proses pun berjalan–tes menulis, wawancara, dan tes psikologis–sampai saya resmi menyandang posisi resmi Editorial Staff di majalah InfoKomputer, per 1 Juli 2009.
Dan kisah pun dimulai dengan jalan-jalan dan makan-makan…… (*)
Erry Febrian Pratama – Mantan pemegang NIM 13503065 selama enam tahun di ITB dan pemilik akun fuzzbubble di Forum HMIF dan Rileks ITB. Kini bekerja di majalah InfoKomputer sebagai jurnalis. Temui di Facebook, Twitter, dan LinkedIn. Rekan-rekan yang ingin ikut berkontribusi menyumbangkan artikel dapat menghubungi tim Informatika.org melalui halaman Kontak.
Petra
kk Erry, saya penasaran dari dulu,,
apa aja sih perbedaan2 (dari segi aktivitas, tanggung jawab, subjektivitas, ethic, dll) antara seorang jurnalis IT seperti kk Erry dengan tech-blogger?
Billy Koesoemadinata
“…penerapan digitalisasi media di perusahaan ini masih berjalan setengah hati. Masalahnya, tidak semua karyawan siap dan mau ikut dalam perubahan strategi ini…”
Dan karyawan yang siap plus mau bertindak segera, rata-rata ga sabaran dengan rencana yang dibuat.. sebagian besar pun akhirnya berkarya di tempat lainnya.. #truestory
Septia Sukariningrum
Proud with you bro! Never thought we meet again in a journalistic world
Anyway, nice pic at Forbidden City!
Arie
Mengharukan & inspiratif ihh.. :’)
Agung Prasetyo
Inspiring story, ry!
yupandabenar
” Tulisan lain yang saya kerjakan adalah uji produk. Selama ini, saya beberapa kali kebagian menguji PC all-in-one dan laptop. Prosesnya, barang uji yang dipinjamkan oleh vendor akan diuji benchmark-nya dulu oleh bagian lab. Setelah keluar angka-angkanya, barulah kemudian saya yang bertugas menganalisis dan mengemasnya dalam bentuk tulisan. ”
tulisan diatas mengingatkan saya ketika membaca majalah2 komputer.
pada saat melakukan testing dengan membeli dulu produk nya.
katanya loh…
btw, nice story..sangat inspiratip, dan memotivasi saya