You Are Here: Home » Alumni » Pengalaman Bekerja di Luar Negeri (United Kingdom)

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri (United Kingdom)

Awalnya, tidak pernah ada keinginan untuk bekerja di tanah rantau. Akan tetapi, sekitar tahun kelulusan studi master saya, Kerajaan Inggris Raya memperbolehkan lulusan universitasnya untuk bekerja selama 2 tahun di negara tersebut (sekarang peraturan ini sudah berubah). Maka setelah lulus kuliah master dari Universitas Edinburgh, bermodalkan visa post-study work (PSW), saya mulai melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan di UK.

Graduation Gown

Gaun wisuda, ada hood-nya dan mirip gaun penyihir. Mungkin sumber inspirasi J.K. Rowling sewaktu menulis Harry Potter :) (Edinburgh adalah tempat tinggal J.K Rowling)

Satu hal yang sangat membantu saya dalam melamar berbagai pekerjaan tersebut adalah tersedianya layanan Careers Servicedi kampus saya. Badan ini secara rutin menggelar workshops dan talks yang berhubungan dengan mencari pekerjaan yang sesuai minat dan bakat, cara membuat CV yang orisinal tapi tidak berlebihan, penjelasan berbagai tes dan  wawancara yang dilalui dari awal hingga diterima kerja, dan sebagainya. Mereka bahkan memberikan tips seremeh memilih warna kaos kaki!

Saya cukup tercengang saat menghadiri temu wicara mengenai penulisan CV. Sebelumnya, saya merasa biasa saja menuliskan tanggal lahir ataupun gender dalam CV. Akan tetapi, untuk menekan subjective judgement, disarankan untuk tidak menuliskan usia, gender, agama, suku/kewarganegaraan ataupun menyertakan foto dalam CV. Wah, rasanya sangat adil.

Kantor Layanan Karir

Kantor Layanan Karir. (sumber: Careers Service, The University of Edinburgh (1))

Layanan Karir tersebut juga menyediakan jasa mock interview secara personal. Saat itu saya akan menjalani phone interview dengan salah satu perusahaan energi multinasional. Seorang staf dari dari careers service menyediakan diri menjadi aktor pewawancara, seolah-olah beliau adalah staf HR dari perusahaan energi tersebut. Dalam mock interview, sang aktor pewawancara menanyakan hal-hal yang kira-kira akan ditanyakan, berdasarkan data yang telah dihimpun oleh careers service, kemudian membahas di mana saja letak kelemahan jawaban saya. Hal ini sangat membantu sehingga saya merasa cukup siap dan tenang dalam wawancara sesungguhnya.

Setelah dihitung-hitung, mungkin saya sudah melamar sekitar seratus lowongan pekerjaan dalam kurun waktu setahun sebelum diterima bekerja. Nama besar ITB rasanya tidak seberarti saat melamar pekerjaan di Indonesia. Namun, pengetahuan dan skills yang saya peroleh selama kuliah di ITB sangat membantu dalam melewati proses rekrutmen.

The University of Edinburgh

Kiri: Appleton Tower, salah satu ruang kuliah, bisa disulap jadi lab komputer. Kanan: Informatics Forum, gedung berisi ruang dosen, peneliti, dan kandidat PhD. (Sumber: The University of Edinburgh Website. (2)(3))

Saya ingat, dalam wawancara tahap akhir sebelum diterima kerja sekarang ini, saya diminta untuk merancang sebuah basis data dan melakukan debuggingsebuah program dalam bahasa C++. Semuanya sudah diajarkan di S1 ITB!

Bekerja di luar negeri sejujurnya terasa cukup mengintimidasi. Saat kuliah, saya merasa nyaman karena banyak mahasiswa internasional yang sama-sama ‘jauh dari rumah’ dan memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Saat bekerja, mau tidak mau, saya harus beradaptasi dengan budaya setempat agar tidak jadi ‘beda sendiri’.

Minum teh, adalah salah satu budaya yang sangat lekat di hati orang Inggris. Hampir setiap jam ada orang yang memulai ronde menawarkan siapa saja yang mau minum teh, kemudian orang tersebut akan menyiapkan dan menyajikan teh untuk semua yang sudah mengiyakan. Tidak ada office boy/girl yang bisa diminta untuk membuat teh. Budaya ini tidak pandang jabatan, baik bos maupun newcomer bisa memulai ronde. Selain itu, ronde minum teh menjadi salah satu ajang sosialisasi singkat.

Mengunjungi pub setelah kerja juga salah satu budaya yang sudah berurat berakar di sini. Pub adalah tempat mereka melepas penat, bercengkerama, makan, dan minum. Jika ada yang selalu menolak ajakan ke pub, dia akan dicap sebagai anti-sosial. Untungnya pub di sini menyediakan berbagai jenis minuman non-alkohol. Beberapa bartender cukup melihat jilbab saya dan langsung bertanya: “One mixed juice?”.

Mintel Office

Beberapa foto seputar kantor (Sumber: Mintel Group Website (4))

Bahasa adalah salah satu kendala terbesar saya. Saat kuliah, saya termasuk pasif, pendengar kuliah. Jika ada presentasi, bisa disiapkan beberapa hari sebelumnya. Dalam diskusi, rata-rata teman mahasiswa sudah mengerti akan kemampuan bahasa Inggris para non-natives. Dibandingkan saat bekerja, sering kali saya harus menjelaskan suatu hal yang kompleks tanpa persiapan dan berusaha sebisa mungkin agar tidak terjadi miskomunikasi. Berbagai cara mulai dari gerakan tangan, menggambar diagram, ataupun membuat contoh program singkat sudah menjadi biasa. Yang lebih sering, setelah lawan bicara bingung, saya minta waktu semenit untuk memikirkan apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan. Di lain waktu, lawan bicara meminta saya menuliskan pendapat saya ke dalam surel :)

Saya tidak malu untuk mengakui bahwa sampai saat ini, saya masih mengikuti kelas bahasa Inggris, dan masih merasa kurang.

Selain itu, teman-teman kantor saya sangat beragam baik dari kewarganegaraan, kepercayaan, warna kulit, orientasi seksual, dan sebagainya. Tidak aneh melihat seorang pria dengan anting-anting di alis, bibir, dan hidung, tetapi berpakaian jas rapi dan necis. Tidak aneh juga menanyakan kabar boyfriend dari seorang kolega pria. Semua ini benar-benar mengajarkan saya untuk tidak mudah menghakimi.

Kecintaan pada pemrograman adalah hal mendasar bagi saya untuk betah bekerja di luar negeri. Lain dari itu: keluarga, jauh; bicara, tidak lancar; tabungan, lebih besar jika bekerja di Indonesia; makanan, tidak senikmat makanan di Indonesia. Hmm, memang benar kata orang, rasa cinta pada Indonesia akan semakin besar jika kita berada di luar negeri :)

Sumber foto:

  1. http://www.ed.ac.uk/schools-departments/careers
  2. http://media.inf.ed.ac.uk/virtualtours/infuglab.html
  3. http://media.inf.ed.ac.uk/forum/virtualtours/virtual_tour.html
  4. http://www.mintel.com/blog/be-pilgrim

Dianing Galih Yudono (IF 2001) Artikel ini disumbangkan oleh Dianing Galih Yudono IF 2001 yang melanjutkan kuliah di School of Informatics The University of Edinburgh dan sekarang bekerja di Mintel Group Ltd. Rekan-rekan yang ingin ikut berkontribusi menyumbangkan artikel dapat menghubungi tim Informatika.org melalui halaman Kontak.

About The Author

Number of Entries : 8

Comments (12)

  • anggriawan

    Wow, Edinburgh, Wow! XD

    Balas
  • dipa

    Aku juga pernah studi di Belanda dan kerja di Belgia. Sukanya banyak, dukanya juga banyak. Tapi secara umum, kerjanya lebih mudah dibandign pekerjaanku di Jakarta sbg pns/peneliti. Disana pekerjaan sudah jelas, peralatan sudah tersedia, teratur sekali. Disini wah, mulai dari tujuan organisasi sampai peralatan, kita usahakan sendiri. Blmn gaji yang memalukan, bikin kt nggak focus. Tapi disana, secara budaya kt tertekan, apalagi kalau mau komit dengan Islam. Wudhu di tempat kerja agak susah, karena kaki kita naik ke wastafel, nggak enak keliatan orang.Cebok di kantor yang ada hanya tisu, kt mesti basahkan tisu tsb, atau bawa gelas kecil utk tmp air. Kulit kering sekali, mesti pakai pelembab, entah mengandung babi atau enggak. Hampir semua makanan tidak jelas, kita mesti selektif sekali. Paling aman buah dan sayur, makanan laut.

    Tapi hidup disana seperti di surga dunia, damai, tenang, indah, hijau, cantik, jujur, kaya, dll. Tapi itu seperti fatamorgana. Setelah tua, mereka jalan-jalan keliling dunia, atau ke gereja, terakhir berpesta di rumah jompo menunggu maut. Aku nggak puas dengan pattern hidup seperti itu, hidup tanpa makna. Aku pulang. Di Indonesia memang sadis, tapi aku merasa nggak seperti di neraka dunia banget di Indonesia, kt jalani saja. Tujuan kita bukan dunia, suatu ketika kita meninggalkannya.

    Salam

    Balas
    • galih

      Wah, sepertinya pengalamannya seru ya. Kalau tidak salah, di Belanda ada skema yang serupa, lulusannya bisa kerja di sana (tapi setahun, bukan dua tahun)? Apa Pak/Mas Dipa menggunakan skema tersebut?

      Katanya di Belgia enak, banyak tempat makan yang jualan masakan Indonesia. Tapi memang terasa bedanya dari yang biasanya di golongan mayoritas di Indonesia, tiba-tiba menjadi golongan minoritas di negara lain. Susah wudhu di luar negeri membuat kita memahami perasaan orang-orang yang demo menuntut kebebasan membangun gereja di Indonesia :)

      Ngomong-ngomong, boleh atuh dibuat artikelnya, biar bisa puas ngebacanya..

      Balas
  • Nabila

    Keren Kak pengalamannya. Thanks for sharing ya :) :) :) -Nabila, IF2007

    Balas
  • Alfauzi

    wah sangat sangat memotivasi saya untuk melanjutkan kuliah keluar negri kak, makasih sudah share pengalaman yang bagus banget, dan saya sangat kagum :D

    Balas
  • Adi

    Wah jadi tertarik banget bwt nerusin ke luar tar,
    Kak mau tx donk tentang pengalaman selama menuntut ilmu dengan jurusan informatika di luar negeri,
    suka dukanya juga masalah yang dihadapi.. X)

    #lagi cari2 info pengalaman orang informatika yang sudah belajar di luar.. :)

    Balas
  • ocha

    asw
    kaak, you got any facebook/ twitter/ any soc media account? hehe
    i wanna ask you questions personally
    i actually wanted to continue my postgrad at Edinburgh, :)

    Balas

Leave a Comment

© 2011 Copyright by Informatika.org, Powered By Wordpress, Goodnews Theme By Momizat Team

Scroll to top